Content on this page requires a newer version of Adobe Flash Player.

Get Adobe Flash player

Home Contact Us Links Sitemap FAQ Guest Book
 
About TA
Projects
Philanthrophy
Speaker's Engagement
Publications
Press Release
TA Hot Topics
Photo Gallery

TA Speech at 5th WIEF
TA Dialog with FOR
TA Hot Topics

Content on this page requires a newer version of Adobe Flash Player.

Get Adobe Flash player

 

Bicara Bursa Menteri dan Polemik Pengelolaan BUMN
Calon Menneg BUMN Harus dari Kalangan Profesional

Oleh: Tanri Abeng (Mantan Menneg BUMN)

Rakyat Merdeka, 17 Juli 2009

Pelantikan presiden baru akan dilakukan pada 20 Oktober nanti. Namun sejumlah nama calon menteri dari kalangan professional dan parpol sudah mulai beredar.

DARI sekian banyak pos menteri yang dibicarakan, kursi Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara (Menneg BUMN) jadi topik terpanas. Ada kekhawatiran alih-alih berperan mengelola BUMN untuk menopang perekonomian, seorang Menneg BUMN waktunya malah tersita oleh komoditas politik.

Menurut pakar manajemen Tanri Abeng, situasi tersebut tidak boleh terjadi dalam rezim pemerintahan mendatang. “BUMN diharapkan dapat meningkatkan efisiensi dan bebas dari segala bentuk intervensi non korporasi,” kata bekas Menneg BUMN ini.

Bagaimana polemik pengelolaan BUMN selama ini? Figur seperti apa yang cocok menjabat Menneg BUMN di kabinet mendatang? Kepada Rakyat Merdeka, Tanri Abeng membeberkannya di Jakata, kemarin.

Menurut Anda, seberapa penting bursa menteri yang sedang diributkan selama ini?

Postur kabinet merupakan faktor penting untuk efektivitas pemerintahan lima tahun kedepan. Pemerintahan SBY pasti mengerti ini. Beliau punya hak prerogatif untuk menyusun kabinet dan diharapkan tidak terjebak dalam proses politik dagang sapi.

Belajar dari pemerintahan masa lalu, kabinet mendatang harus berani, tidak sekedar bagus di konsep.

Seperti apa sosok ideal Menneg BUMN mendatang?

Calon menteri BUMN dibekali aset nyaris Rp. 2000 trilyun dan harus bisa memanfaatkannya secara optimal untuk kepentingan negara. Menneg BUMN harus memiliki wawasan menciptakan nilai aset-aset BUMN.

Jadi, calon tersebut memiliki sasaran bagaimana menciptakan nilai tambah. Mereka harus mengerti soal restrukturisasi perusahaan sehingga bisa mendatangkan keuntungan, kemudian baru masuk pasar modal.

Apakah figur itu bisa diakomodir oleh calon dari Parpol?

Calon menteri harus dari kalangan profesional dan tidak terafiliasi aktif dengan partai politik manapun. Jadi saat menjabat tidak tergoda atau terpengaruh oleh intervensi dari parpol atau politisi.

Kalau dari kalangan profesional seperti apa?

Dia harus mempunyai pengalaman dalam menjalankan bisnis korporasi, baik BUMN atau perusahaan swasta. Misalnya, dia harus pernah menjadi CEO atau memegang posisi puncak perushaan yang menghadapi  masalah manajemen badan usaha yang sangat kompleks. Jadi, calonnya jangan dari kalangan birokrat.

Bagaimana kalau calonnya dari orang dekat SBY?

Semua itu berpulang pada keputusan presiden.Hanya saja, calon menneg BUMN adalah orang yang harus mendapatkan kepercayaan penuh dari presiden.

Menneg BUMN tidak bisa berjalan setengah-setengah. Dengan begitu menterinya berani bertindak dan menghadapi intervensi. Apalagi intervensi terhadap aset –aset ekonomi negara ini bisa macam-macam. Presiden harus all out memberikan dukungan.

Anda punya usulan nama?

Gita Wirjawan (bekas Presiden Direktur JP Morgan Indonesia), Emir Satar (Dirut Garuda Indonesia), Agus Martowardojo (Dirut PT. Bank Mandiri) dan Sofyan Djalil.

Apa Alasan Anda?

Bank Mandiri adalah bank terbesar di tanah air setelah merger lima bank. Garuda kini maskapai nasional dan kebanggaan Indonesia setelah nyaris ambruk. Sedangkan JP Morgan adalah lembaga investasi besar asal Amerika Serikat.

Sepak terjang Gita cukup dikenal di kalangan internasional. Agus Marto dan Emir Satar sebagai CEO juga cukup sukses melakukan restrukturisasi perusahaan yang sakit.

Bagaimana dengan Sofyan Djalil. Bukankah kinerjanya dinilai kurang bagus dan sering terpeleset dalam memberikan pernyataan di depan publik?

Sebagai incumbent, dia punya kelebihan pada pengalaman dan mengetahui sejauh mana proses restrukturisasi BUMN. Memang, program restrukturisasinya seperti pembentukan holding company BUMN belum bisa dijalankan karena terkendala birokrasi.

Rambu-rambu pembenahan dan penyehatan BUMN sudah cukup lengkap. Tapi faktanya kinerja BUMN masih jauh dari target. Menurut Anda?

Persoalannya karena manajemen pemberdayaan BUMN yang keluar dari rel-nya. Saya sudah membuat perencanaan dan mengusulkan dalam konsep saya, Indonesia, Inc., bahwa untuk menangani BUMN perlu dibentuk yang namanya holding company. Tapi ketika di Indonesia implementasinya kacau karena leadership dan management tidak jalan.

Bukankah Sofyan Djalil di kenal “junior” Anda. Mengapa tidak bisa merealisasikan konsep tersebut?

Dia memang kolega dan salah seorang staf saya dulu. Saya sudah dorong semaksimal mungkin. Dalam hal konsep kita menang, tapi ketika tiba pada tataran implementasi kalah. Sebab, banyak yang tidak mengerti manajemen.

Rata-rata kebijakan sudah oke tapi ketika diimplementasikan semua kacau. Perencanaan tidak jalan, organisasi tidak jelas, eksekusi tidak tahu siapa yang incharge, lalu yang namanya review juga tidak bisa jalan.

Bisa diartikan konsep BUMN Anda tidak diterima oleh pemangku kepentingan?

Master plan, road map BUMN yang sudah saya buat dengan teman-teman, tidak jalan sampai sekarang. Baru akan mulai dijalankan lagi. Itu karena kepemimpinan manajemen atau management leadership tidak bisa menggerakkan implementasi dari konsep yang ada.

Akhirnya konsep keluar rel karena kepentingan politik dan terlalu banyak pendekatan birokrasi.

Apakah Anda tertarik dan ada rencana untuk berpolitik lagi dalam kabinet SBY-Boediono?

Spesialisasi saya dibidang ekonomi manajemen dan pendidikan. Politik sebenarnya bukan domain saya. Saya hanya mengerti sedikit, itupun untuk membantu siapapun yang pantas memimpin bangsa ini.

Kalau menjadi penasehat presiden bagaimana?

Bolehlah. Tapi yang jelas jauh dari dunia politik.

Anda punya saran untuk calon pemimpin muda bangsa ini ke depan?

Dunia sedang dilanda krisis dan terus bergerak dinamis. Ini perlu dimanajemeni dengan baik. Kita harus mengubah paradigma dari melihat kekayaan alam sebagai gedung mewah, mobil mewah, rumah mewah, menjadi keilmuan, ilmu memanajemeni sumber-sumber daya yang ada.

Setiap orang harus belajar apa itu manajemen. Karena hanya manajemen sajalah yang bisa menciptakan nilai tambah. Jutaan orang pintar tapi tidak di-manage, tidak akan terjadi proses nilai tambah.

Sering saya katakan bahwa sebenarnya tidak ada negara yang miskin, yang ada adalah negara yang tidak termanajemeni dengan baik. GO