Content on this page requires a newer version of Adobe Flash Player.

Get Adobe Flash player

Home Contact Us Links Sitemap FAQ Guest Book
 
About TA
Projects
Philanthrophy
Speaker's Engagement
Publications
Press Release
TA Hot Topics
Photo Gallery

TA Speech at 5th WIEF
TA Dialog with FOR
Press

Back

Tanri : DereGulasi Membuat Saya Lebih Mahal

Semarang- Prestasi Tanri Abeng dalam dunia bisnis, ternyata sudah monumental jauh sebelum dia dijuluki “manajer satu miliar”. Saat itu pun ia belum jadi orang nomor satu PT Multi Bintang Indonesia. “saya begitu lulus dari MBA benar-benar merangkak dari bawah. Dan itu saya suaki, karena pemimpin akan bermutu bila melalui proses berjenjang yang bermula dari posisi paling rendah,” katanya. Di Union Carbide New York ia benar-benar bermula sebgai pegawai rendahan. Seorang clerk. “Tetapi perjalanan saya keatas begitu cepat. Padahal untuk menjadi direktur sesuai aturan Union Carbide perlu waktu 15 tahun.” Ungkap Tanri kemudian. Seusai berbicara dalam seminar sehari “Peranan Pengusaha dalam Pengelolaan Lingkungan Hidup” di Balaikota Semarang. Kamis lalu pria kelahiran Selayar Sulawesi Selatan ini memang bercerita panjang lebar kepada wartawan Suara Merdeka di sela-sela istirahat makan siang dalam acara tersebut. Selain soal suksesnya. Ia pun mengomentari BUMN yang go public. Pembinaan sumberdaya manusia maupun dunia pendidikan. Walaupun kemampuan manajerial nya hebat. Tanri toh masih punya manajer idola. Apa alasannya dan siapa?

Oh, Perjalanan Anda hingga menjadi Direktur “Union Carbide” tak sampai membutuhkan waktu 15 tahun.

Saya hanya perlu waktu dua tahun untuk menjabat Direktur Union Carbide Indonesia.

Wah, anda pernah satu perusahaan dengan Bondan Winarno.

Saya sudah jadi direktur waktu Bondan masuk.

Kenapa bisa secepat itu?

Mungkin karena saya punya leadership style

Sejak anda Direktur disana, karir anda berkembang dan terus meleset. Apa rahasianya?

Karena model kepemimpinan bercirikan keterbukaan dan bersamaan yang saya lakukan ini.

Bagaimana ceritanya Aburizal Bakri sampai merekrut Anda dan isu “manajer satu miliar” itu tersiar?

Setelah deregulasi memang angina segar bertiup bagi dunia usaha. Dan ini tentu dimanfaatkan oleh pengusaha, untuk itulah saya diminta Ical membantu. Jadi deregulasi membuat saya lebih mahal. Dan yang merasakannya tak hanya saya, karena penawaran yang jauh di bawah permintaan membuat banyak eksekutif lain merasakan hal serupa.
Ha..ha, dihitung dengan rupiah berapa itu ?

Yang jelas apa yang diisukan per situ keliru. Soalnya saya kan nggak pindah. Nah, kalau saya pindah mungkin saja angka-angka yang diberitakan sudah punya invenstasi. Betapa tidak? Saya sudah sepuluh tahun disana. Tentu sudah punya senioritas. Punya kedudukan, dan tentu saja memiliki hak-hak sebagai karyawam yang akan diterima di masa depan. Misalnya saja uang pension atau pesangon. Nah ini, tentu harus diperhitungkan bila kepindahan Bakri diikuti dengan keluarnya saya dari Multi Bintang. Tetapi karena saya tidak keluar. Tentu itu semua tak diperhitungkan.

Dalam perjalanan memasuki bakrie brothers, apakah anda melakukan negosiasi, seperti “bargaining” misalnya?

Oh tidak, saya diminta setelah saya pertimbangkan ternyata saya punya waktu, ya saya terima. Tetapi sama sekali saya tidak meminta fasilitas-fasilitas tertentu.

Apa saja yang sudah dilakukan di sana?

Pertama saya sudah mengintrodusir suatu system manajemen yang baru.

Apakah sebelum anda masuk kesana sudah tahu kelemahan-kelemahan dalam system manajemen lama, sehingga perlu diganti?

Ya, memang saya sudah tahu langkah kedua yang sudah saya lakukan adalah menyusun planning system yang komprehensif. Kemudian ketiga, melakukan restrukturisasi organisasi. Dan yang terakhir implementasi dari semua program tersebut. Itu juga merupakan proses-proses yang telah saya lakukan di Multi Bintang.

Bagaimana Anda mengelola sumberdaya manusia di sana?

Memang kesuksesan perusahaan sangat tergantung pada personil-personilnya. Untuk itulah pembinaan dan pengembangan sumberdaya manusia sangat sentral sekali. Program pelatihan. Pendidikan dan sejenisnya di Multi Bintang saya kira tidak kalah dengan di IBM atau Citibank. Nah kalau orang – orang di Citibank itu mobilitas nya tinggi, penyebabnya karena industri perbankan sangat beragam. Banyak sekali bank khan? Nah kalau di industri minuman rendah.

Sekarang kalau pembinaan sumberdaya di fakultas ekonomi bagaimana sebaiknya?

Supaya seiring dengan perkembangan yang sangat pesat di dunia menajemen. Kurikulumnya memang harus berubah. Management technology sekarang maju luar biasa sekali. Nah, supaya dunia pendidikan tidak ketinggalan. Riset harus semakin banyak dilakukan. Di Amerika, yang lulusannya laris ditopang oleh dana riset yang besar. Harvard, begitu. Kemudian almamater
 Saya. University of Nef York at Buffaloo yang juga top. Mempunyai dana untuk riset yang besar sekali. Itu didapatkan dari donator. Terutama lulusan – lulusannya. Saya masih mengirim sumbangan sukarela kesana.

Saya dengar dua putra Anda kuliah disana?

Juga di University of New York tetapi lain college. Nama besarnya masih dibawah college yang di Buffaloo. Sebenarnya anak saya juga mendaftar di almamater saya. Karena nilainya kurang mencukupi, pihak universitas menghubungi apakah saya akan meminta supaya dia bisa diterima. Saya bilang tidak, kalau tak memenuhi persyaratan, silakan tak diterima.

Bagaimana kesejahteran yang Anda berikan untuk mereka, dan mengapa putra-putra Anda dikirim ke sana?

Walau saya bisa membuat mereka berkelimpahan. Saya tak melakukan hal itu.soal dikirim kesana itu karena sejak di Singapura mereka sudah kenal pendidikan Amerika, kemudian waktu high school, dua tahun disana. Jadi wajar saja kalau dia melanjutkan pendidikan di Amerika.

Apakah bukan karena kualitas pendidikan disana yang lebih bagus?

Memang di Amerika lebih maju. Tetapi sebenarnya untuk sukses di dunia usaha yang lebih penting adalah kemauan belajar dalam praktek di dunia bisnis nyata nanti. Saya bisa begini karena saya tidak sok tahu begitu saya lulus MBA. Jadi yang mematangkan saya karena saya menyerap banyak hak sewaktu di Union Carbide. Kemudian juga banyak yang saya pelajari dalam sepuluh tahun di Multi Bintang.

Dengan banyak belajar Anda sudah meraih banyak hal, apakah Anda sudah merasa jadi orang nomor satu?

Saya tak pernah merasa nomor satu. Memang sewaktu saya sekolah, keinginan saya untuk menjadi nomor satu sangat tinggi. Saya begitu kecewa kalau saya jadi nomor dua.

Waktu sekolah apa cita-cita Anda?

Saya ingin jadi guru. Ingin sekali saya memandaikan orang lain. Sampai saat ini hasrat itu masih terbawa, saya senang kalau bisa memintarkan anak buah.

Kalau begitu di Multi Bintang sudah ada yang lebih hebat dari Anda?

Karena saya belajar terus, setiap saya mau kalah, terus nggak jadi. Maka ya belum ada.

Ha..ha..apakah anda punya manajer idola?
Lee Iacoca. Setelah saya baca riwayat hidupnya. Pandangan-pandangan dia ternyata sama dengan saya. Itu membuat saya kagum sekali.

Kalau Peter Drucker?

Oh. Drucker dia seorang yang punya wawasan manajemen dan ekonomi yang hebat. Gagasan – gagasannya luar biasa. Tetapi dalam hal-hal yang operasional, lacoca hebat sekali.

Pernahkan Anda mempelajari dengan serius pendapat-pendapat John naisbitt?

Yang hebat itu justru isterinya Patricia Aburdene. Kalau ngomongnya. Memang suaminya yang hebat. Namun soal gagasan dia kalah dari Patricia

Ngomong-ngomong hasil Anda diinvestasikan dimana saja?

Ya saya sebarkan di banyak bidang

Saya dengar ada yang ditanamkan di Tokyo Stock Exchange?

Ada sedikit yang saya tanam lewat saham-saham yang dijual disana.

 Wah rugi dong, kan habis anjlok drastis?

Biarkan saja, soalnya nanti harga itu akan baik kembali dengan sendirinya.

Kalau Bursa Efek Jakarta apakah anda juga membeli saham?

Saya hanya punya dari perusahaan – perusahaan yang saya pimpin. Di Multi Bintang ada saham saya,begitu juga saya mempunyai saham Bakrie Brothers.

Pendapat Anda tentang BUMN yang akan go public bagaimana?

Itu bagus, hanya masalahnya apakah pengelola-pengelolanya sudah siap mengelola sebuah perusahaan public. Dulu BUMN itu kan tertutup, dengan go public berarti harus terbuka. Pengelolaannya juga jelas lain. Nah, dalam adaptasi dari tertutup ke terbuka itu segalanya bukan serba otomatis. Apakah mereka mampu? (Ananto Pradono)

(Sumber: Suara Merdeka, Sabtu, 3 Maret 1990)

Back