Content on this page requires a newer version of Adobe Flash Player.

Get Adobe Flash player

Home Contact Us Links Sitemap FAQ Guest Book
 
About TA
Projects
Philanthrophy
Speaker's Engagement
Publications
Press Release
TA Hot Topics
Photo Gallery

TA Speech at 5th WIEF
TA Dialog with FOR
Press

Back

‘Satu kasus bisa dua SKS di Harvard’

Jakarta (bisnis): dalam perjalanan menuju Bandar udara Angkatan Udara Kerajaan Inggris di London, 5 Juli, sebelum terbang ke Amsterdam, Tanri Abeng bercerita banyak tentang road show dan program privatisasi BUMN. Selama road show dia menyebutkan sebagai hari-hari yang amat produktif, sehari bisa enam tujuh kali pertemuan bisnis. Inilah cuplikannya.

Apa misi dari road show kali ini ?

Objektivitasnya, kita ini promosi. Kita bukan melakukan penjualan langsung sebagaimana road show pada umumnya. Ini promosi untuk mengkomunikasikan kepada investor tentang perkembangan Indonesia, baik soal politik, social, ekonomi terutama soal privatisasi BUMN.

Siapa saja sasaran utama dari promosi ini ?

Potensial investor ada tiga macam. Pertama, investor portofolio. Ini penting untuk lebih meningkat kinerja pasar modal Indonesia yang mulai membaik.
Kedua, investor lembaga seperti lembaga dana pension, yang biasanya melakukan investasi dalam jumlah besar. Ketiga, investor strategis. Investor terakhir ini dinilai amat penting a.l. karena mereka adalah perusahaan multinasional. Mereka mempunyai pengaruh luar biasa terhada kalangan politik maupun pelaku bisnis.

Investor startegis bisa menjadi PR (Public relations) yang efektif bagi kita baik dari aspek politik maupun bisnis.

Masuknya investor strategis ke Indonesia dapat meningkatkan nilai perusahaan karena mereka membawa teknologi, modal, akses pasar dan manajemen.

Bagaimana tanggapan mereka?

Baik sekali. British Telecom dan Ispat International bahkan langsung menanyakan, “What is the next process?” ini berarti mereka tertarik sekali.
Ispat international kini terkaya nomor tiga di inggris. Dulu dia mengawali bisnis di Jawa Timur selama 15 tahun. Sekarang sudah menjadi perusaah multinasional di sembilan Negara.

Apa kunci keberhasilan promosi ini ?

Dalam hal ini ada hal penting, yakni kita harus bicara dalam gelombang yang sama. Kita harus mempromosikan diri sebagai businessmen. Karena mereka businessmen, kebetulan saya sudah 30 tahu bergelut di bisnis. Ini makanan saya.

Disini saya memposisikan diri sebagai CEO dari Indonesia Inc.satu lagi, saya khususkan untuk dapat langsung bisa bicara satu-satu, one-to-one dengan pimpinan tertinggi mereka.

Bila saya memposisikan diri sebagai pejabat atau birokrat nanti tidak nyambung. Dan saya lebih mudah bicara bisnis, bicara politik justru tidak bisa.

Jangan masuk dengan tekanan politik. Promosi kita harus hati-hati programnya jelas.

Apa saja yang dapat dipelajari dari investor strategis?

Bicara dengan pimpinan dari perusahaan multinasional itu banyak yang dapat dipelajari. Bagaimana visi, taktik dan misi mereka. Ispat misalnya, berprinsip bahwa tak peduli perusahaan mitranya milik Negara atau swasta. Yang penting bila dia masuk nilai perusahaan tersebut bertambah.

Dia tidak akan membawa orangnya, tapi memanfaatkan manajemen disuatu Negara dapat menjadi pemegang saham di-holding. Kalau perlu presiden direktus di Indonesia. Umpamanya menjadi komisaris di Kanada atau Jerman.

Lain lagi dnegan British Telecom. Dia tak bernafsu untuk menjadi pemodal mayoritas, cukup minoritas. Perusaahn ini hanya berkonsentrasi pada data transmition, bukan voice. Perusahaan ini ingin menjadi pemain Internasional, kecuali untuk Afrika dan Amerika Latin.

Bagaimana program pembenahan BUMN ini selanjutnya? Apakah ada jaminan akan dilanjutkan bila ada pemerintahan baru nanti?

Sekarang kita masuk ke reformasi BUMN gelombang kedua. Ini restrukturisasi menyeluruh melalui: pembentukan 10 holding, profitisasi jalan dan privatisasi.

Sisa masa kerja cabinet diisi dengan meletakkan landasan yang kuat. Kita selesaikan pondasi reformasi gelombang kedua ini konsep, penjabaran dan implementasi dari 10 holding. Nanti ada 10 buku untuk membahas itu.

Kita juga membangun software, soal system manajemen, blue print, system numerasi, pengembangan kepemimpinan. Ini adalah 8 pondasi. Ada delapan buku lagi, sehingga 18 buku kita siapkan untuk pemerintahan baru nanti. Sepuluh buku tentang struktur dari 10 holding, delapan buku mengenai pondasi korporasi. Mudah-mudahan selesai akhir September nanti. Keduanya saling mendukung.

Semestinya pemerintahan baru, kalau berniat baik, insyaAllah program tersbut dilanjutkan. Saya pribadi bersedia tanpa dibayar pun menjadi penasehat demi berjalannya program ini, sampai itu jelas betul.

Apa tidak sebaiknya dimasukkan dalam letter of intent dengan IMF sehingga pegangannya lebih kuat?
Ah, itu nanti kita bicarakan dengan IMF. Yang penting sidang DPKEK pecah lalu telah menyetujui program itu menjadi agenda nasional. Kita harus maju dengan kekuatan penuh. Apa nanti dimasukkan jadi agenda politik berarti masuk APBN. Atau berupa kesepakatan dengan IMF saja. Itu bukan bidang saya. Itu urusan Menko.

Apalagi pelajaran yang dapat ditarik dari program privatisasi BUMN?

Teramat bodoh kita bila tidak menjadikan kasus-kasus pembenahan BUMN ini sebagai proses pembelajaran. Satu kasus saja, misalnya Garuda, merupakan kasus menarik untuk dipelajari. Belum lagi kasus pelabuhan Indonesia, Semen Gresik dan lain-lain. Masing-masing kasus ini bisa mendapat dua SKS (satuan kredit semester) di Harvard Business School.

(Sumber:  Bisnis Indonesia, Senin, 19 Juli 1999)

Back