Content on this page requires a newer version of Adobe Flash Player.

Get Adobe Flash player

Home Contact Us Links Sitemap FAQ Guest Book
 
About TA
Projects
Philanthrophy
Speaker's Engagement
Publications
Press Release
TA Hot Topics
Photo Gallery

TA Speech at 5th WIEF
TA Dialog with FOR
Press

Back

Manager “Satu Milyar”, Tanri Abeng : “Profesionalisme Lawan Feodalisme”

PT.Multi Bintang Indonesia. Terbilang perusahaan yang sukses. Kesuksesan perusahaan yang antara lain memproduksi Bir Bintang dan Green Sand ini. Di tentukan oleh managementnya yang baik. Dipimpin oleh seorang Manager Profesional. Tanri Abeng (48 tahun).

Tanri Abeng yang  beberapa waktu lalu jadi buah bibir dan mendapat julukan Manager Satu Milyar itu. Usai memberikan ceramah pada Seminar Sehari “Prospek Public Relations Masa kini dan mendatang dalam Era Informasi di Indonesia”. Di hotel panghegar Bandung. Mengatakan kepada wartawan, bahwa Profesionalisme adalah lawan Feodalisme.

Sekian lama Indonesia hidup dalam tata nilai dan etika feodalisme yang ternyata nilai-nilai ini sulit dihilangkan dengan begitu saja. Untuk meninggalkan feodalisme ujar Tanri. Diperlukan waktu yang tidak sebentar. Sehingga peluang untuk menumbuhkan profesionalisme itu tentu mengalami banyak hambatan.

Ditegaskannya dalam feodalisme yang penting adalah hubungan keluarga. Kalau kita mau bersikap professional. Maka kita harus berani memecat seseorang pegawai yang terbukti melakukan sesuatu yang merugikan. Tapi karena sikap feodal begitu kuat. Kita umumnya tidak tega memecat seseorang betapapun besar kesalahannya. Cuma karena ada hubungan keluarga.

RASIO KONTRA DENGAN HATI
 Menanggapi pertanyaan wartawan tentang sosiokultural masyarakat Indonesia yang belum siap menghadapi kemajuan jaman dengan teknologinya yang semakin canggih. Tanri antara lain menandaskan, tekhnologi itu bersifat rasional dan dalam memecahkan persoalan yang timbul pun harus secara rasional pula. Tapi di Indonesia, rasio sering bertentangan dengan hati. Dan kalau ada persoalan, dimana pikiran bertentangan dengan perasaan. Biasanya kata hati dimenangkan. Padahal kalau kita ingin maju, kita harus lebih berani memberi tempat pada pikiran (rasio).

“Meski begitu, saya optimis, bahwa kita akan segera melewati masa transisi. Dari sikap feudal ke professional, dan dari emosional ke nrasional, ujar Tanri sambil menambahkan. Untuk membangun Indonesia baru sejahtera kita harus bersikap professional.

POLITIKPUN BELUM PROF.
Menjawab pertanyaan tentang kaum menengah atau usahawan kita tidak tampak memiliki aspirasi politik yang mandiri, menurut Tanri karena dalam politik pun kita belum professional. Dalam politik, Indonesia masih sulit untuk menerapkan prinsip “reward and punishment” (pahala dan hukuman).

Tanri yang mengaku bukan orang politik itu menandaskan. Segala hal, kalau mau berjalan sebagaimana yang diharapkan tentu ditangani secara professional. Baik itu koperasi, pendidikan, dan juga politik. Kita memang sedang berada dalam periode dimana nilai-nilai modern belum diterima secara utuh. Padahal nilai-nilai lama yang menghambat sudah harus ditinggalkan.

Dalam politik. Tata nilai lama yang tidak relevan lagi dengan situasi modern. Dan tidak kontekstual dengan situasi Indonesia. Harus dengan di tata lagi, tandas Tanri Abeng.

(Sumber: Giwangkara No.1544 Taun KA XVII, Senin, 12 Februari 1990)

Back