Content on this page requires a newer version of Adobe Flash Player.

Get Adobe Flash player

Home Contact Us Links Sitemap FAQ Guest Book
 
About TA
Projects
Philanthrophy
Speaker's Engagement
Publications
Press Release
TA Hot Topics
Photo Gallery

TA Speech at 5th WIEF
TA Dialog with FOR
Speaker's Engagement

Content on this page requires a newer version of Adobe Flash Player.

Get Adobe Flash player



Content on this page requires a newer version of Adobe Flash Player.

Get Adobe Flash player

Back

A NEW LEADERSHIP CHALLENGE

Dunia tidak saja mengglobal, bahkan flat sesuai dengan istilah Friedman. Mobilitas capital termasuk talent sangatlah dinamis. Tidaklah mengherankan kalu world trade melampaui world production. Lebih dari itu, sesuai dengan data yang dikemukakan oleh Greenspan, World Financial Flow jauh lebih besar dibandingkan dengan World Trade. Inlah fenomena dari world economic transaction. Pertanyaannya adalah “Who are the taking benefit of all of the transaction?” Negara-negara yang memiliki pool of talents serta leadership, baik pada tingkat Negara bangsa maupun pada sector korporasi, adalah pemetik keuntungan dari the New World Economy.

Kepemimpinan merupakan sebuah proses pembelajaran dan praktek, dia bukanlah sebuah posisi ataupun jabatan yang diberikan. Jabatan bisa kita dapatkan karena uang, hubungan kekeluargaan, ataupun kolusi (KKN). Kepemimpinan adalah sebuah proses yang akan membentuk seorang pemimpin dengan karakter dan watak jujur terhadap diri sendiri (integrity), bertanggungjawab yang tulus (compassion), pengetahuan (knowledge), keberanian bertindak sesuai dengan keyakinan (commitment), kepercayaan pada diri sendiri dan orang lain (confidence) dan kemampuan untuk meyakinkan orang lain (communication). Juga sebuah proses yang akan membentuk seorang pengikut (follower) yang didalam kepatuhannya kepada pemimpin, tetap memiliki pemikiran kritis, inovatif, dan jiwa independen.

Leadership Matters
Abad 21 ini telah disepakati sebagai era pembangunan yang berbasis pada ilmu pengetahuan.  Penelitian dan konsensus dalam pengembangan korporasi atau badan-badan usaha telah mengangkat perubahan mendasar yaitu:  Pertama, Leadership and talent has replaced capital as the scarce resource for growth. (Kepemimpinan dan talen telah menggantikan kapital atau dana sebagai sumber daya yang terbatas untuk pertumbuhan).  Kedua, 73% pemimpin-pemimpin korporasi dunia sepakat bahwa biaya dan tersedianya pemimpin-pemimpin yang memiliki kompetensi profesional merupakan kendala pertumbuhan badan usaha atau korporasi.

Dapat dibayangkan, kalau korporasi yang berkaliber dunia saja mengalami kelangkaan talent atau pemimpin-pemimpin berbakat, bagaimana dengan badan-badan usaha nasional kita?  Apa yang dapat kita harapkan dari ke 5 bentuk badan usaha nasional kita untuk membangun kemampuan bersaing, sekaligus bekerjasama dalam era globalisasi ini?

Sebagai praktisi dan pembelajar kepemimpinan dan manajemen saya sangat prihatin menyaksikan kondisi pengembangan kepemimpinan (Leadership Development) di tanah air, baik pada sektor politik, pemerintahan maupun dunia usaha. Pola kepemimpinan kita masih bersifat ‘transactional leadership’. Pola ini selalu bersifat ad hoc jangka pendek bertengger di atas hubungan yang transaksional.
The new leadership challenge bagi kepemimpinan negara bangsa termasuk badan usaha seyogyanya berpola kepada dua aspek ;

  • Management Leadership dan
  • Transformational Leadership.

Management Leadership
Leadership bagi Badan-Badan Usaha di Indonesia haruslah mampu menggabungkan kompetensi manajerial dan keterampilan dan kearifan kepemimpinan agar sumber daya yang berlimpah serta peluang bisnis dapat dimanajemeni melalui pendekatan entreprenurial-managerial yang berimbang. Sebagaimana Peter Drucker mengatakan ‘You can not be a succesfull entreprenuer unless you manage but if you manage without entreprenurial you take a risk of becoming a bureaucrat’.

Balancing and put the right priorities and the right time antara kebutuhan penataan, perencanaan, pengorganisaian dan pengendalian serta upaya penciptaan terobosan baru dalam membangun usaha yang berkesinambungan. Merupakan tantangan sekaligus seni yang harus di kembangkan melalui proses pembelajaran dalam praktek pengeloaan Badan-badan Usaha.

Tantangan kedua dan yang merupakan kebutuhan mendesak adalah urgensinya seluruh kelembaggan negara-bangsa khususnya Badan-badan Usaha untuk melakukan transformasi kepemimpinan dari transaksional leadership kepada transformational leadership. Transformational Leadership sangat berorientasi pada hubungan antara leader-follower. Saya telah menyikapi rumusan bahwa ‘Organisasi negara-bangsa atau korporasi hanya akan sebaik pemimpinnya dan pemimpin hanya akan sebaik orang-orang yang dipilihnya.

Transformational Leadership
Tanggung jawab kepemimpinan nasional misalnya, harus-lah

  • mampu menterjemahkan visi kepemimpinan nasional ke dalam rencana strategis, membangun organisasi pemerintahan (institutional building) yang kemudian dipimpin oleh para manajer yang memiliki kompetensi untuk mengimplementasikan secara efektif dan efisien seluruh agenda pembangunan bangsa;
  • mampu mengembalikan atau membangun social trust sebagai pondasi dari transformasi sosial;
  • mampu membangun sistem dan disiplin manajemen yang membudaya;
  • mampu membangun dan mewujudkan akuntabilitas publik; dan
  • bersedia atau ikhlas membangun sistem suksesi. Apabila Kepemimpinan nasional tidak dapat memenuhi tanggung jawabnya, maka mereka dapat dinyatakan gagal dalam menjalankan kepemimpinan nasional.

Sebagai contoh dalam hal melakukan pemilihan menteri, hendaknya tidak disasarkan atas transaksi politis dengan Partai Politik, akan tetapi didasarkan pada kompetensi untuk menerjemahkan visi kepemimpinan nasional, keikhlasannya bekerjasama dengan menteri lain, dan kemampuannya untuk menunjukkan akuntabilitas sesuai dengan jabatan dan posisinya. Oleh karenanya, jabatan menteri harus berbasis kemampuan untuk memimpin sekaligus me-manage dan bukannya sebagai hasil dari transaksi politis. Mereka harus memiliki kompetensi managerial dan leadership.

Kepemimpinan Transformational di sektor korporasi ditandai oleh :

  • Visionary and Strategic
    Kepemimpinan transformasional harus lah memiliki visi jangka panjang dan berkesinambungan. Dengan demikian sistem perkaderan yang merupakan bagian dari suksesi kepemimpinan merupakan kebutuhan mutlak.
  • Ability to Motivate Other
    Kepemimpinan transformational tidak berorientasi pada hubungan birokratis formalitis akan tetapi didasari oleh motivasi dan kerelaan untuk bekerjasa
  • Ablity to Handle Crisis
    Organisasi membutuhkan dinamika yang harus dimanage sebagai bagian dari proses pertumbuhan dan pematangannya melaui perubahan yang berkesinambungan.
  • Ability to Build Trust and Team-work.
    Tidak ada pekerjaan yang monumental dapat dihasilkan tanpa kerjasama tim, naum tim work membutuhkan trust yang harus dibangun melalui integritas dan kredibilitas sang pemimpin.
  • Ability to develop effective communication
    Komunikasi dalam konteks korporasi seharusnya berorientasi kepada pengembangan saling pengertian yang memudahkan koordinasi, kerjasama serta komitmen bersama. Barulah dengan demikian, proses kepemimpinan dapat berfungsi secara efektif.
Akhirnya kepemimpinan transformasional memiliki karakter pemimpin yang decicive, berani mengambil risiko dan tanggung jawab bahkan bersedia untuk tidak populer. Kunci dari kesemuanya ini adalah kepemimpinan yang mampu menata seluruh institusi secara rapi serta membangun sistem suksesi kepemimpinan yang dapat melanjutkan proses pengembangan usaha secara berkesinambungan. Patut kita merenungkan kembali leadership wisdom yang dikemukan oleh Ki Hajar Dewantoro sebagai hasil akumulasi knowledge, skill dan attitude yang positif dalam konteks kepemimpinan. Ing ngarso sung tuladha - Ing madya mangun karsa - Tut wuri handayani: yang saya istilahkan dalam kepemimpinan modern menjadi Leading – Inspiring – Motivating’.

Terima kasih

Tanri Abeng

Back