Content on this page requires a newer version of Adobe Flash Player.

Get Adobe Flash player

Home Contact Us Links Sitemap FAQ Guest Book
 
About TA
Projects
Philanthrophy
Speaker's Engagement
Publications
Press Release
TA Hot Topics
Photo Gallery

TA Speech at 5th WIEF
TA Dialog with FOR
Speaker's Engagement

Content on this page requires a newer version of Adobe Flash Player.

Get Adobe Flash player



Content on this page requires a newer version of Adobe Flash Player.

Get Adobe Flash player

Back

Management System and Leadership (Pilar Pendayagunaan BUMN Dalam Rangka Meningkatkan Kesejahteraan Rakyat)

To be a great and effective leader, you should lead your managementship and manage your leadership

Kemakmuran/kesejahteraan rakyat merupakan cita-cita bangsa Indonesia sebagaimana diamanatkan dalam UUD 1945 terutama tertuang dalam Pembukaan dan Pasal 33 UUD 1945.  BUMN sebagai salah satu aset negara dan tulang punggung perekonomian negara (disamping Badan Usaha Milik Daerah, Badan Usaha Milik Swasta, Badan Usaha Milik Swasta Asing, dan Badan Usaha Milik Rakyat) seharusnya juga diarahkan untuk mencapai kesejahteraan dan kemakmuran rakyat. Untuk itu keberadaan BUMN dan Badan Usaha lainnya perlu direformasi pengelolaannya sehingga mampu memberikan nilai tambah bagi negara dalam mewujudkan kesejahteraan rakyat. Akan menjadi sia-sia jika kepemilikan/penguasaan cabang-cabang produksi yang penting (termasuk didalamnya BUMN) oleh negara tidak memberikan dampak terhadap peningkatan kesejahteraan rakyat. Dalam era globalisasi dan pasar bebas, peran monopoli pemerintah  secara perlahan mesti dilepaskan (melalui deregulasi  atau privatisasi) untuk meningkatkan daya saing BUMN dan untuk menjamin berlangsungnya mekanisme pasar. Penguasaan atau regulasi hanya perlu dilakukan manakala mekanisme pasar tidak berjalan (terjadi market failure) dan hanya pada sektor-sektor yang paling strategis seperti sektor pertahanan keamanan.

Menurut Undang-undang Nomor 19 Tahun 2003 tentang Badan Usaha Milik Negara, yang dimaksud dengan BUMN adalah badan usaha yang seluruh atau sebagian besar modalnya dimiliki oleh negara melalui penyertaan langsung yang berasal dari kekayaan negara yang dipisahkan. Maksud dan tujuan pendirian BUMN menurut undang-undang ini adalah untuk :
memberikan sumbangan bagi perkembangan perekonomian nasional; pada umumnya dan penerimaan negara pada khususnya

  • mengejar keuntungan
  • menyelenggarakan kemanfaatan umum,
  • menjadi perintis kegiatan usaha yang belum dapat dilaksanakan oleh swasta atau koperasi dan
  • turut aktif memberikan bimbingan dan bantuan kepada pengusaha golongan ekonomi lemah, koperasi dan masyarakat.

Untuk mengoptimalkan peran BUMN dalam upaya peningkatan kesejahteraan rakyat, secara internal diperlukan paling tidak 2 pilar pengelolaan BUMN, 1) Manajemen, dan 2) Leadership. Hal ini sangat beralasan mengingat sebagian kesalahan pengelolaan dan alokasi sumber daya (resources) adalah kesalahan yang muncul sebagai akibat dari lemahnya 2 pilar tersebut. Manajemen yang baik dan Leadership yang kokoh-lah yang mampu memberikan atau mewujudkan penciptaan nilai (value creation) bagi suatu entitas bisnis termasuk didalamnya BUMN. Management dan Management System merupakan tool yang mampu mengarahkan perusahaan (entitas bisnis) untuk dapat mengalokasikan sumberdaya secara optimal, mendorong terciptanya efisiensi dan efektifitas, meningkatnya profesionalisme dan good corporate governance (GCG) serta best practices. Corporate Leadership mampu menerjemahkan visi ke dalam kesatuan tindakan (brings vision into action), sehingga pelaksanaan fungsi-fungsi manajemen menjadi lebih efektif. Manajemen dan leadership merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan.

Beberapa bulan lalu, Indonesia Forum mempresentasikan Visi Indonesia tahun 2030 mendatang di Istana Negara. Berdasarkan presentasi tersebut, Indonesia akan mengalami kemajuan yang pesat. Yakni, pada 2030 Indonesia menjadi negara maju yang unggul dalam pengelolaan kekayaan alam, dengan ditopang empat pencapaian utama. Pertama, Indonesia masuk dalam lima besar kekuatan ekonomi dunia, dengan pendapatan per kapita 18 ribu dolar AS. Kedua, pengelolaan kekayaan alam yang berkelanjutan. Ketiga, perwujudan kualitas hidup modern yang merata. Keempat, mengantarkan sedikitnya 30 perusahaan Indonesia masuk dalam daftar Fortune 500 Companies. Untuk mencapai misi tersebut, menurut Yayasan Indonesia Forum, mensyaratkan beberapa hal, pertama, ekonomi berbasiskan keseimbangan pasar terbuka dengan dukungan birokrasi yang efektif. Kedua, adanya pembangunan sumber daya alam, manusia, modal, serta teknologi yang berkualitas dan berkelanjutan. Ketiga, perekonomian yang terintegrasi dengan kawasan regional dan global. Dalam kacamata saya, kesemua prasyarat (dalam konteks pengelolaan BUMN) hanya dapat terpenuhi melalui deregulasi yang efektif,  melibatkan pihak swasta atau privatisasi, manajemen korporasi yang baik dan corporate leadership yang kokoh. Tanpa itu, VISI 2030 akan menjadi “jauh panggang dari api”.

Management System
Manajemen merupakan suatu sistem karena manajer memperoleh  input dari lingkungan (informasi, modal, sumberdaya, waktu dan bahan baku) dan mentransformasi dan mendeliver input menjadi output (produk, jasa, keuntungan, dll) serta merespon perubahan lingkungan dimana suatu siklus dimulai lagi. Sistem seringkali diterjemahkan sebagai Serangkaian inter-relasi antar elemen yang berfungsi sebagai keseluruhan (satu kesatuan). Secara grafis, manajemen sebagai suatu sistem dapat dilihat dalam gambar 1 di bawah ini.

a

Gambar 1: Elemen Kunci Sebuah Sistem

Pendekatan Sistem bagi manajemen sangat sesuai untuk beberapa alasan sebagai berikut:

  • Meletakkan konsep dalam hubungan sistematis agar lebih mudah dipahami.
  • Berpikir sistem seperti melihat theatre dari balkon. Hal ini membuatnya lebih mudah untuk melihat bukan hanya secara keseluruhan, akan tetapi setiap bagian dan bagaimana masing-masing elemen terkait satu dengan lainnya.
  • Jika diperlukan perubahan, perspektif sistem memberikan konteks yang lebih luas dan lebih jelas (untuk memahami apa, dimana, kapan, siapa dan bagaimana).
  • Pendekatan sistematis lebih memungkinkan keberhasilan karena dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan antara gambaran menyeluruh dan detail dari suatu situasi sebaik mempertimbangkan interkoneksi diantara beberapa hal.

Sistem manajemen yang sederhana merupakan hubungan antara kebutuhan (input) kerja atau aktivitas (throughput) dan hasil (output). Dasar dari Manajemen Sistem merupakan hubungan antara kebutuhan, kerja dan hasil. Manajer yang efektif mengidentifikasi hasil yang mereka inginkan didasarkan pada kebutuhan pemangkukepentingan dan organisasi. Mereka kemudian menentukan kerja yang perlu dilakukan untuk mencapai hasil tersebut. Eksekusi yang efektif mengarahkan untuk mencapai hasil yang dapat memuaskan kebutuhan pemangkukepentingan.

a

Gambar 2. Kebutuhan – Kerja – Hasil

Untuk menjadi efektif dalam organisasi yang kompleks sekarang ini, manajer harus berpedoman pada: perencaac, pengorganisasian, leading dan pengendalian. Model manajemen lima arah mengilustrasikan lingkungan pengaruh dari manajer dalam organisasi. Manajer juga harus mengkomunikasikan dengan yang lain terkait arus produk/jasa mereka (departemen yang menyediakan input – jasa atau produk – ke area tanggung jawab manajer. Hal ini termasuk pembagian tanggung jawab untuk menjamin keberhasilan individu atau organisasi. Mengkomunikasikan “ke samping” dengan pelanggan di dalam dan di luar organisasi adalah penting. Mengkomunikasikan dan berbagi tanggung jawab antar manajer merupakan karakteristik dari manajer yang efektif dan percaya diri. Akhirnya, seorang manajer harus mampu memanajemeni diri mereka sendiri dalam konteks membangun disiplin dan integritas. Five-Ways Management, apabila dilakukan dengan benar dan konsisten akan membangun suatu kepercayaan dan komitmen dari stakeholder dan semua pihak yang terkait dengan seseorang; atasan, bawahan, pelanggan, supplier, dan terutama mampu menciptakan konfidensi seseorang untuk memberikan yang terbaik bagi organisasi dimana dia berada. Secara grafis Five-Way Management dapat digambarkan sebagai berikut.

a

Gambar 3. Five-Ways Management
Fungsi manajemen sebagai suatu system yang mengalokasikan sumberdaya (resources) sampai pada tingkat aktivitas, secara lebih jelas dapat dilihat dalam gambar dibawah ini. Penjelasan lebih lengkat mengenai Manajemen sebagai Sistem dan Bagaimana kita harus berpikir system (system thinking) akan diuraikan pada bagian lain pada tulisan berikutnya.

a

Gambar 3. Five-Ways Management

Leadership
hubungan kepemimpinan (leadership) dengan manajemen (management). Keduanya memiliki kemiripan, meskipun sebenarnya sangat berbeda dalam konsep. Menurut Bennis and Nanus (1995), konsepsi pemimpin lebih ke arah mengerjakan yang benar, sedangkan manajer memusatkan perhatian pada mengerjakan secara tepat atau terkenal dengan sebuah ungkapan “managers are people who do things right and leaders are people who do the right thing”. Dalam analogi saya, kepemimpinan memastikan tangga yang kita daki bersandar pada tembok secara tepat, sedangkan manajemen mengusahakan agar kita dapat mendaki tangga seefisien mungkin.

Kita bisa memahami proses kepemimpinan dengan baik ketika kita tidak hanya melihat pada sosok seorang pemimpin, tetapi juga pengikut, bagaimana pemimpin dan pengikut saling berinteraksi, dan juga bagaimana situasi bisa mempengaruhi kemampuan dan tingkah laku pemimpin dan pengikut. Hakekat terpenting dari framework ini adalah bagaimana menjadikan kepemimpinan sebagai hasil dari interaksi sinergis dari pemimpin, pengikut dan lingkungan organisasi. Untuk mewujudkan kepemimpinan yang efektif (effective leadership), kepemimpinan harus dipelajari sebagai ilmu dan dipraktekkan sebagai sebuah seni yang indah. Pemimpin yang efektif adalah seseorang yang dengan pengetahuannya bisa berimprovisasi menggunakan (sumber) kekuasaannya untuk menggugah pengikutnya untuk mencapai kinerja yang memuaskan – melalui motivasi dan pemberdayaan.

Tabel 1: From Good to Great Leader


1.

Demonstrate great personal character.

Everything about great leadership radiates from basic characters: Integrity, Maturity, Abundance Mentality, Responsibility, Trust and Excellence Mentality.

2.

Starts small and act now.

Going from good to great follow an S curve of learning. Starts small means doing something now, something within your control that will have immediate impact.

3.

Excel at something.

Know exactly what are good at and improve to the 90 percent level. Be good at something, then at a few things.

4.

Connect competencies
and leverage
Combinations.

You will be a better leader when you connect competencies and see the power of combinations. Leaders with Focus on Results and Interpersonal Skills have a powerful combination.

5.

Use non-linear
approach to become
a better leader.

Avoid to be reactive and direct attack to improve competencies. Improve other competency to improve the perception of one competency.

6.

Capitalize on your
strengths.

Define what you do well, and magnify. It only takes strength in a few (two or three) attributes while being average in the rest to achieve great success.

7.

Remedy fatal
flaws.

Assess yourself and see how others assess you on five fatal flaws: Inability to learn from mistakes; being interpersonally inept; being closed to new ideas; failure to be accountable for results; and not proactive enough to taking initiative.

Sumber: The Extraordinary Leader, Zenger and Folkman,

Kepemimpinan merupakan sebuah proses pembelajaran dan praktek, dia bukanlah sebuah posisi ataupun jabatan yang diberikan. Jabatan bisa kita dapatkan karena uang, hubungan kekeluargaan, ataupun kolusi (KKN). Tidak demikian dengan sebuah kepemimpinan. Kepemimpinan adalah sebuah proses yang akan membentuk seorang pemimpin dengan karakter dan watak jujur terhadap diri sendiri (integrity), bertanggungjawab yang tulus (compassion), pengetahuan (knowledge), keberanian bertindak sesuai dengan keyakinan (commitment), kepercayaan pada diri sendiri dan orang lain (confidence) dan kemampuan untuk meyakinkan orang lain (communication). Juga sebuah proses yang akan membentuk seorang pengikut (follower) yang didalam kepatuhannya kepada pemimpin, tetapi memiliki pemikiran kritis, inovatif, dan jiwa independen.

Kepemimpinan adalah aksi dan pengaruh yang berbasis ke logika dan juga inspirasi. Tiap-tiap manusia memiliki sisi rasional dan emosional yang membawa implikasi terjadinya perbedaan pemikiran, feelings, pengharapan, mimpi, kebutuhan, ketakutan, ambisi dan tujuan. Maka konsekuensinya, seorang pemimpin dituntut untuk cerdik menggunakan pendekatan rasional dan emosional untuk mempengaruhi pengikut, tentu dengan bobot yang adil dan disesuaikan dengan keadaan.

Deregulasi, Depolitisasi dan Debirokratisasi
Pengurangan intervensi politik dan pemerintah dalam manajemen BUMN diharapkan dapat mendorong terciptanya efisiensi dan efektivitas pengelolaan BUMN. Biaya sosial dan political cost yang selama ini ditanggung oleh manajemen BUMN, akan menghambat penciptaan nilai (value creation) dan peningkatan kompetensi (core competence) BUMN untuk bersaing dalam skala global. Disamping itu, deregulasi beberapa sektor juga merupakan suatu prasyarat berlangsungnya mekanisme pasar. Intervensi dan regulasi hanya dapat dilakukan oleh pemerintah pada saat mekanisme pasar tidak berjalan dengan sempurna (market failure). Pada saat mekanisme pasar berjalan sempurna, intervensi dan regulasi justru menjadi sesuatu yang menghambat dan berdampak negatif. Monopoli dan pemberian hak eksklusif kepada BUMN, dalam jangka panjang, akan mematikan potensi kompetensi BUMN yang bersangkutan di masa yang akan datang. Penerapan mekanisme pasar dalam setiap sektor perekonomian mutlak diperlukan untuk mendorong BUMN agar dapat dikelola secara efektif, efisien, dan kompeten dengan mendasarkan pada prinsip manajemen korporasi.

Dalam era globalisasi dan pasar bebas, pemerintah seyogyanya mulai  mengurangi peran dan intervensinya ke dalam manajemen BUMN. Kepentingan politik di balik proses pengelolaan BUMN dan privatisasi  dapat diminimalkan melalui deregulasi, mekanisme pasar, dan privatisasi. Pengurangan intervensi pemerintah dalam tubuh BUMN diharapkan dapat mendorong efisiensi dan efektivitas pengelolaan BUMN. Biaya sosial dan political cost yang selama ini ditanggung oleh manajemen BUMN, akan menghambat penciptaan nilai (value creation) dan peningkatan kompetensi (core competence) BUMN untuk bersaing dalam skala global.

Salah satu kesalahan utama program privatisasi yang dilakukan oleh pemerintah adalah bahwa privatisasi lebih ditujukan sebagai upaya untuk menutup APBN (lebih ditekankan pada kepentingan politik) dibandingkan sebagai upaya untuk melakukan perluasan usaha atau meningkatkan kualitas layanan kepada masyarakat. Dengan demikian privatisasi dilakukan secara tergesa-gesa dan terkesan sebagai (fast-track privatization) dengan tanpa melihat kesiapan dan kondisi internal manajemen. Akibatnya nilai tambah yang diperoleh oleh pemerintah sangatlah kecil dan perusahaan tidak memiliki kecukupan dana untuk melakukan perluasan usaha dan perbaikan kualitas barang dan jasa yang diberikan kepada masyarakat. Hal lain yang tidak kalah pentingnya adalah masih relatif besarnya intervensi politik atas proses pelaksanaan privatisasi dan manajemen BUMN. Ada ketidakrelaan (bagi beberapa kelompok kepentingan: interest group) untuk melepaskan sebagian kepemilikan BUMN melalui privatisasi.

Tuntutan perubahan lingkungan usaha yang lebih kompetitif, telah mendorong pemerintah  mengurangi peranan dan intervensinyanya dalam menetapkan kebijakan stratejik BUMN. Pemerintah selaku pemegang kebijakan publik, dan manajemen BUMN selaku pemegang kebijakan perusahaan, secara bersama-sama melaksanakan program privatisasi. Privatisasi dimaksudkan untuk: (1) mengurangi aktivitas dan intervensi politik dan pemerintah dalam pengelolaan BUMN; (2) mengurangi kepemilikan saham pemerintah; (3) mengubah orientasi non-komersial dengan menjual kepemilikan BUMN kepada pihak swasta, atau dengan kata lain privatisasi memberikan peluang kepada swasta untuk masuk ke bisnis yang sebelumnya dilakukan oleh BUMN. Sejalan dengan kebijakan privatisasi, dan untuk kepentingan pertumbuhan ekonomi, maka sangat tepat untuk meningkatkan partisipasi swasta baik dalam negeri maupun swasta asing untuk turut serta dalam proses pembangunan.

Sebagai catatan akhir, agar suatu organisasi memiliki pertumbuhan  yang berkesinambungan (sustainable competitive growth) pada umumnya haruslah memiliki beberapa hal. Salah satunya adalah sistem manajemen dan inovasi yang superior. Sistem manajemen dan inovasi yang superior bersandar pada suatu pekerjaan atau tugas manajerial yang mampu memotivasi dan memberdayakan karyawan melalui disiplin manajemen. Sistem manajemen tidak dapat bekerja secara optimal tanpa adanya manajer  yang terampil, banyak memiliki pengetahuan dan memiliki leadership skill yang handal. Melalui suatu disiplin sistem, diharapkan akan menciptakan karyawan yang memiliki komitmen dan integritas, inovasi superior dan pertumbuhan berkesinambungan. Secara singkat, manajemen sistem menjamin bahwa semua tugas, wewenang dan tanggung jawab dilaksanakan secara benar, terpadu dan terarah. Leadership skill yang handal mampu membawa visi ke dalam serangkaian tindakan untuk mencapai tujuan bersama melalui motivasi dan empowerment seluruh potensi yang dimiliki oleh organisasi. Keduanya mestilah berjalan secara bersama-sama, sehingga mampu membentuk organisasi yang efektif, efisien dan memiliki kompetensi yang tinggi.

Formulasi kebijakan pendayagunaan BUMN untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat dapat ditempuh melalui pembayaran hutang luar negeri, peningkatan penerimaan pajak dan dividen, pemberantasan KKN, pengembangan pasar modal, investasi dan lapangan kerja, kemitraan dengan UKM dan pelayanan publik yang berkualitas. BUMN dapat didayagunakan secara optimal pada saat BUMN yang bersangkutan mampu menghasilkan laba dan memiliki nilai tambah (value added) yang positif. Sebaliknya BUMN yang merugi justru menjadi beban bagi pemerintah, karena pemerintah harus menyisihkan sebagian anggaran untuk mendukung BUMN yang merugi. Tatakelola perusahaan yang baik (GCG) akan dapat mendorong manajemen untuk bertindak secara transparan, bertanggung jawab dan mampu bekerja secara efektif dan efisien. Reformasi pengelolaan BUMN diperlukan untuk menciptakan nilai dan meningkatkan profitabilitas BUMN yang pada gilirannya dapat digunakan untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat.

Jakarta, 27 Desember 2007

Tanri Abeng

Back